Bolehkah Wanita Tua dan Sudah Tidak Bersuami Umroh Tanpa Mahrom?

23 December 2017 / By admin

Untuk kasus seperti ini harus membawa dalil karena Nabi melarang wanita bersafar, umroh termasuk safar, haji jelas termasuk safar, ke Surabaya, ke Bandung, ke Purwakarta termasuk safar, maka haram bagi wanita safar kecuali harus bersama mahrom atau suami[1].

Suami itu bukanlah mahrom, tetapi suami menjadi termasuk salah satu yang membolehkan menemani istri safar. Jadi kita bisa simpulkan bahwa istri (perempuan) yang safar harus ditemani suami atau mahromnya. Mahrom perempuan itu adalah bapaknya, abangnya, adik laki-lakinya, keponakan laki-lakinya, pamannya.

Secara singkat mahrom itu adalah orang (laki-laki dan perempuan) yang haram dinikahkan selamanya karena nasab, pernikahan atau susuan. Mahrom laki-laki adalah perempuan dan sebaliknya mahrom perempuan adalah laki-laki.

Contoh; laki-laki mana yang tidak boleh nikah dengan Ibu maka itu adalah mahrom Ibu. Perempuan mana yang tidak boleh nikah dengan bapak maka itu mahrom Bapak.

Karena tidak mungkin misal; si Ani menikah dengan si Sri karena mereka berdua sama-sama perempuan, yang boleh dinikahkan adalah laki-laki dengan perempuan, misal; si Ani (perempuan) dengan si Anto )laki-laki).

Adakah Nabi membatasi mahrom dengan usia? -Tidak ada-, maka yang mengatakan bahwa 60 tahun boleh tidak bersama mahrom maka ini perlu dalil.

Kalau wanita tua sudah berusia 70 tahun, 80 tahun tidak memakai jilbab ini ada dalilnya. Lihat di surat An-Nur, lihat sabda Nabi, maka ini ada dalilnya yang membolehkan wanita tua tersebut terlihat rambutnya atau lehernya[2].

Agama Islam itu agama dalil, maka jika kita hendak melakukan suatu ibadah harus berdasarkan dalil yang shohih.

– Catatan faedah dari penjelasan tanya-jawab bersama Ustadz Muhtarom حفظه الله تعالى

_______
Footnote
[1] Dari Qaz’ah maula Ziyaad berkata: “Aku mendengar Abu Sa’id (Al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu), yang telah mengikuti dua belas peperangan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata: “Empat perkara yang aku dengar dari rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuat aku takjub dan kagum, yaitu: “Janganlah seorang wanita safar sejauh dua hari (perjalanan) tanpa disertai suami atau mahramnya, janganlah berpuasa pada dua hari Idul Fitri dan Idul Adlha, janganlah sholat setelah mengerjakan dua sholat yaitu setelah sholat Ashar sampai tenggelam matahari dan setelah sholat Subuh sampai terbit matahari, dan janganlah bepergian jauh kecuali menuju tiga masjid: masjidil Haram, masjidku (masjid nabawi) dan masjidil Aqsho.” [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/73), Muslim (hal. 976) dan Ahmad III/34 dan 45]

[2] QS: An-Nur/24:60:
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan wanita-wanita tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin (lagi), mereka tidak berdosa untuk menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. Dan menjaga kesucian diri mereka adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allâh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tags
, ,
Leave a Comment

*Please complete all fields correctly